<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>

<rss version="2.0"
 xmlns:blogChannel="http://backend.userland.com/blogChannelModule"
>

<channel>
<title>Sastra Perjalanan</title>
<link>http://penjuruangin.multiply.com/</link>
<description></description>
<pubDate>Mon, 10 Oct 2011 01:02:17 -0000</pubDate>
<lastBuildDate>Mon, 28 Sep 2009 16:33:57 -0000</lastBuildDate>

<image>
<title>Sastra Perjalanan</title>
<url>http://multiply.com/mu/penjuruangin/logo</url>
<link>http://penjuruangin.multiply.com/</link>
<width>100</width>
<height>100</height>
</image>
<item>
<title>REUNI PERAK KASMAJI 85 TAHUN 2010</title>
<link>http://penjuruangin.multiply.com/calendar/item/10006/REUNI_PERAK_KASMAJI_85_TAHUN_2010</link>
<description>Reuni</description>
<guid isPermaLink="true">http://penjuruangin.multiply.com/calendar/item/10006/REUNI_PERAK_KASMAJI_85_TAHUN_2010</guid>
<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 16:33:57 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Mudik, 16 September....perjalanan menuju asal muasal.</title>
<link>http://penjuruangin.multiply.com/notes/item/1</link>
<guid isPermaLink="true">http://penjuruangin.multiply.com/notes/item/1</guid>
<pubDate>Mon, 7 Sep 2009 13:25:54 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Menjaga Solo</title>
<link>http://penjuruangin.multiply.com/reviews/item/9</link>
<description>Dawet telasih. Saya nyaris tak pernah absen menikmati jajanan minuman itu setiap pulang kampung ke Karanganyar. Aroma dan rasa es dawet yang sangat khas itu selalu menarik minat saya untuk blusukan ke Pasar Gede, Solo, tempat penjualnya mangkal. &#x22;Ritual&#x22; itu pulalah yang saya lakoni ketika ngancani acara liburan anak-anak belum lama ini.

Dawet telasih, bagi saya, adalah wakil dari sesuatu yang langgeng pada Kota Solo atau Surakarta Hadiningrat. Posisinya setara dengan kue serabi Notosuman, tengkleng Pasar Klewer, kupat tahu dekat Masjid Solihin, kue intip Pasar Gede, dan tentu saja budaya angkringan. Ini adalah jajaran penganan yang tidak sekadar bisa dinikmati sebagai pengisi usus besar kita, tapi juga menjadi ikon kuliner yang barangkali ikut menyertai sejarah Kota Solo dalam beberapa dekade terakhir.

Ini bukan soal romantisisme. Tapi ini sebenarnya bagian dari harapan yang diam-diam tumbuh di hati saya tentang Kota Solo. Harapan itu kian membesar justru saat saya melihat apa y...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penjuruangin.multiply.com/reviews/item/9</guid>
<pubDate>Wed, 22 Jul 2009 11:00:06 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Pesta Tanjakan Jatiluhur--Plered</title>
<link>http://penjuruangin.multiply.com/journal/item/20/Pesta_Tanjakan_Jatiluhur--Plered</link>
<description> &#x3C;a href=&#x22;http://penjuruangin.multiply.com/photos/hi-res/upload/ShdnPQoKCEQAACJf6UQ1&#x22;&#x3E;&#x3C;img class=&#x22;alignmiddleb&#x22; src=&#x22;http://images.penjuruangin.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/ShdnPQoKCEQAACJf6UQ1/Jatiluhur.jpg?et=5MyQ%2CxjufUF2enUxiskRbQ&#x26;amp;nmid=0&#x22; border=&#x22;0&#x22;&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Menjelang tengah hari pastilah bukan waktu yang pas untuk memulai penjelajahan dengan sepeda. Tetapi apa boleh buat, banyak sekali halangan di Tol Cikampek tadi sehingga kami baru &#x22;mendarat&#x22; di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, sekitar pukul 10.30 WIB. Sambil merakit sepeda, saya dan kang Ade berdiskusi apakah misi gowes Jatiluhur-Cirata masih layak dicoba. Akhirnya, persis pukul 11.00, dengan sedikit kurang pemanasan, kayuhan pertama dilakukan. Misi sedikit direvisi: finis di Plered (Pusat Kerajinan Gerabah) sambil melihat kemungkinan untuk lanjut ke Waduk Cirata.&#x3C;br&#x3E; &#x3C;br&#x3E; Langit diatas Jatiluhur siang itu sedikit mendung. Panas tak begitu menyengat. Bagi kami, ini tanda-tanda yang baik untuk memulai eksplorasi trek baru. Maklum, diantara kami berdua belum ada yang pernah menjajal rute ini. Dulu, kang Ade pernah memutari Jatiluhur. Tetapi ya cuma sebatas itu. &#x3C;br&#x3E; &#x3C;br&#x3E; Kira-kira 15 menit, setelah menempuh sebujur putaran, kami mulai &#x3C;i&#x3E;mblusuk&#x3C;/i&#x3E; ke kampung Seurpis (cmiiw) dan melintasi jalur sempit diantara r...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penjuruangin.multiply.com/journal/item/20/Pesta_Tanjakan_Jatiluhur--Plered</guid>
<pubDate>Sat, 23 May 2009 03:03:09 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Romansa Di Jalur Gragot</title>
<link>http://penjuruangin.multiply.com/journal/item/19/Romansa_Di_Jalur_Gragot</link>
<description>   &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;&#x22;&#x3E;Libur akhir pekan yang panjang, dan kita sudah tahu betapa banyak cara untuk melewatinya. Kemarin sore kita melihat ribuan kendaraan menuju pusat perhelatan festival musik internasional di Senayan. Mereka adalah lapisan khalayak yang memiliki kalkulasi bahwa sebuah ekstra-pakansi layak dilunaskan dengan menikmati musik-musik adiluhung.&#x3C;/p&#x3E;    &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;&#x22;&#x3E;Malamnya kita lolos dari&#x26;nbsp; gelombang kendaraan yang meluber di jalan bebas hambatan menuju luar kota. Dari atas jembatan penyebarangan, kita mebayangkan puluhan --mungkin ratusan-- ribu jiwa didalam kendaraan itu tengah harap-harap cemas memburu sepercik jeda di luar kota. Sebuah &#x201C;luar kota&#x201D; yang kadang absurd. Sebab pada destinasi, mereka justru menjemput persoalan yang hendak mereka tingalkan di kota keberangkatan: kemacetan, kehibukkan, keterburu-buruan, dan perpacuan dengan waktu.&#x3C;/p&#x3E;    &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;&#x22;&#x3E;Tetapi, imaji &#x201C;luar kota&#x201D; selalu mampu menaklukan fatamorgana apa pun. Maka deretan kendaraan lalu sungguh mengular jauh. Kita melihat ribuan lampu mobil yang ...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penjuruangin.multiply.com/journal/item/19/Romansa_Di_Jalur_Gragot</guid>
<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 04:35:27 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Solilokui Ibu</title>
<link>http://penjuruangin.multiply.com/journal/item/17/Solilokui_Ibu</link>
<description>&#x3C;a href=&#x22;http://penjuruangin.multiply.com/photos/hi-res/upload/SZWJNQoKCEQAAEY0cd81&#x22;&#x3E;&#x3C;img class=&#x22;alignmiddleb&#x22; src=&#x22;http://images.penjuruangin.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SZWJNQoKCEQAAEY0cd81/Sepimalam.jpg?et=uy%2CuyHZRs7K36wigySZ5vw&#x26;amp;nmid=0&#x22; border=&#x22;0&#x22;&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Malam, pada akhir pekan lalu, kesenyapan menjebakku di jalanan bebas hambatan. Gerimis bulan Januari menggaris kaca mobil butut yang kutumpangi. Seandainya tanpa lampu mobil, kegelapan ini nyaris sempurna.&#x3C;br&#x3E; &#x3C;br&#x3E; Ini sebenarnya hari yang biasa saja. Tentu saja jika tanpa ingatan pada gelombang pesan yang datang dari pojok pasar, poros Blok M-Kota yang gemuruh oleh ceceran kisah busway, pidato-pidato di Tugu Proklamasi, kegalauan di sebuah gedung Jalan Imam Bonjol, atau dari hatiku sendiri yang masygul. Susul menyusul sepanjang minggu ini.&#x3C;br&#x3E; &#x3C;br&#x3E; Aku teringat ibu dan kampungku di &#x201C;Jawa&#x201D; sana. Tiba-tiba aku ingin melengkapi kesenduan (dan kesendirian) ini dengan sepotong lagu, &#x201C;Kebaya Merah&#x201D;. Kasetnya selalu tersimpan di laci bawah dasboard. Kini aku ingin mendengarkannya. Betapapun akustik di mobil butut ini tak senyaman yang engkau inginkan.&#x3C;br&#x3E; &#x3C;br&#x3E; Kebaya merah kau kenakan&#x3C;br&#x3E; Anggun walau tampak kusam&#x3C;br&#x3E; Kerudung putih terurai&#x3C;br&#x3E; Ujung yang koyak tak kurangi cintaku&#x3C;br&#x3E; Wajahmu seperti menyimpan duka&#x3C;br&#x3E; Padahal kursimu...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penjuruangin.multiply.com/journal/item/17/Solilokui_Ibu</guid>
<pubDate>Wed, 11 Feb 2009 03:18:34 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Kasmaji85</title>
<link>http://penjuruangin.multiply.com/links/item/4/Kasmaji85</link>
<description>situs anak-anak  kasmaji</description>
<guid isPermaLink="true">http://penjuruangin.multiply.com/links/item/4/Kasmaji85</guid>
<pubDate>Mon, 5 Jan 2009 08:21:25 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Surat Old Bohemian ( 8 )</title>
<link>http://penjuruangin.multiply.com/journal/item/16/Surat_Old_Bohemian_8_</link>
<description>  &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22;&#x3E;&#x3C;a href=&#x22;http://penjuruangin.multiply.com/photos/hi-res/upload/SVrBBAoKCEQAAG9uvNU1&#x22;&#x3E;&#x3C;img class=&#x22;alignmiddleb&#x22; src=&#x22;http://images.penjuruangin.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SVrBBAoKCEQAAG9uvNU1/es-intifada390.jpg?et=8YurbXdBCc7Lj1PDR62fuw&#x26;amp;nmid=0&#x22; border=&#x22;0&#x22;&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22;&#x3E;Sobat,&#x3C;/p&#x3E;        &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22;&#x3E;Apakah hawa kematian yang engkau rasakan dalam 100 meter jalan setapak sejak keluar dari masjid ibrahim? Anak-anak, sobatku, mereka berbicara tentang hidup ketika menawarkan kopiah bulu domba. &#x201C;one dollar please&#x2026;one dollar please&#x2026;..&#x201D;&#x3C;/p&#x3E;        &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22;&#x3E;Dan, apakah mereka mengabarkan hawa maut ketika sesaat kemudian harus membungkus kepala dengan kaifiyeh dan memunguti batu- batu jalanan untuk sebuah intifadha? &#x3C;/p&#x3E;    &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22;&#x3E;Sobatku tercinta, sejatinyalah mereka&#x26;nbsp; tengah menembangkan semangat hidup yang terampas. Kematian hanyalah harga yang pantas untuk setiap perjuangan. &#x3C;/p&#x3E;            &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22;&#x3E;Tetapi sobatku, mereka tak pernah bergenit-genit dengan kematian. Mustahil hal seperti itu mereka lakukan layaknya remaja-remaja di belahan jagat lain yang mengingau tentang kematian hanya karena disulut cinta tak bersambut. Mereka hanya tahu, takdir tak mengijinkan mereka menyerah pada kematian tak wajar&#x2014;sebagai orang jajahan.&#x3C;/p&#x3E;      &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22;&#x3E;Suhu di Hebron saat itu terpuruk di 15 derajat. Aku&#x26;nbsp; gemetar ketika di ...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penjuruangin.multiply.com/journal/item/16/Surat_Old_Bohemian_8_</guid>
<pubDate>Wed, 31 Dec 2008 00:47:18 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Sepotong Malam Di Cafe Club</title>
<link>http://penjuruangin.multiply.com/journal/item/15/Sepotong_Malam_Di_Cafe_Club</link>
<description> &#x3C;a href=&#x22;http://penjuruangin.multiply.com/photos/hi-res/upload/SUN9OQoKCEQAAHyQRRk1&#x22;&#x3E;&#x3C;img class=&#x22;alignmiddleb&#x22; src=&#x22;http://images.penjuruangin.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SUN9OQoKCEQAAHyQRRk1/P1010072.JPG?et=r%2C0dGxZM4%2CdjKL%2CJWNdz9Q&#x26;amp;nmid=0&#x22; border=&#x22;0&#x22;&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Courier New&#x22;&#x3E;Apa yang engkau harapkan dari sebuah pertemuan akhir pekan dengan sahabat lama? Pertanyaan itu yang merusuhi pikiranku saat menerima tahniah (sms) pendek dari ary permana:&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;&#x22;...Entar malem jam 19.00, di &#x22;Cafe Club&#x22;, dekat ATM port, Plaza Senayan.&#x22;&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Agak lama kupandangi layar telepon selulerku ketika sandek (pesan pendek) itu masuk. Agak lama, karena aku tiba-tiba merasa berada pada ketegangan yang mengasyikan: mesti menuntaskan beban pekerjaan yang menumpuk di akhir pekan, atau memenuhi kesempatan &#x3C;br&#x3E;menarik&#x26;nbsp;mengulik rahasia sang waktu yang bernama: kenangan dan perubahan?&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Semula, aku berharap bisa memetik sebutir hikmah dari sholat jum&#x27;at siang itu.&#x26;nbsp;Siapa tahu kata-kata&#x26;nbsp;pria di mimbar itu akan berguna membantu mengambil keputusan. Tetapi apakah yang engkau harap dari sebuah khotbah jum&#x27;at yang monoton dari waktu ke waktu? Hanya saja selalu ada cadangan kesabaran yang tersisa untuk mampu menjalani rutinitas itu tanpa keluh kesah.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Dan, ketegangan tak akan pernah memberi kemewahan...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penjuruangin.multiply.com/journal/item/15/Sepotong_Malam_Di_Cafe_Club</guid>
<pubDate>Sat, 13 Dec 2008 01:18:22 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Surat 4 (Athens)</title>
<link>http://penjuruangin.multiply.com/journal/item/14/Surat_4_Athens</link>
<description>&#x3C;p&#x3E;&#x3C;img class=&#x22;alignmiddleb&#x22; src=&#x22;http://images.penjuruangin.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SUD-nQoKCEQAAC9ot3Q1/tr35.jpg?et=%2CjmsmroZoeAJ9DlwkW%2BmmQ&#x26;amp;nmid=0&#x22; border=&#x22;0&#x22;&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p&#x3E;&#x22;...&#x3C;em&#x3E;when i grow older, i will be there at your side to remind you, &#x3C;/em&#x3E;&#x3C;em&#x3E;how i still love you&#x3C;/em&#x3E;...&#x22;&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Anakku,&#x3C;br&#x3E;berapa jauhkah menurutmu jarak antara Banten&#x3C;br&#x3E;dan Athens, sebuah kota kecil di pinggiran&#x3C;br&#x3E;Ohio ini? Berapa jauhkah, nak, jika kerinduan&#x3C;br&#x3E;seperti cakrawala: terasakan tapi tak terjangkau?&#x3C;br&#x3E;Dengan kerinduan macam itulah Banten dan Athens&#x3C;br&#x3E;sebenarnya bukan lagi sebuah jarak. Mereka&#x3C;br&#x3E;hanyalah tempat yang berbeda.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Anakku, jika aku bercerita musim gugur yang&#x3C;br&#x3E;tengah menjenguk Athens, adakah artinya buatmu?&#x3C;br&#x3E;Empat hari lalu matahari masih meluapkan&#x3C;br&#x3E;panasnya di siang-siang. Tetapi tiga hari terakhir&#x3C;br&#x3E;hawa mulai dingin, daun-daun mulai berubah warna.&#x3C;br&#x3E;Dan, rinduku tak beranjak kemana-mana....&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Dan, anak-anak yang baku-canda di taman itu,&#x3C;br&#x3E;oh tuhan, betapa ingin kulihat wajahmu diantara&#x3C;br&#x3E;mereka. Anak-anak Asia, anak-anak Afrika, anak-anak&#x3C;br&#x3E;Amerika, dan kecipak mereka yang mengatasi&#x3C;br&#x3E;perbedaan bahasa. &#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p&#x3E;Kenapa dunia tak dipimpin para bocah saja, anakku?&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Ingin kulewatkan malam ini, dengan bait lagu&#x3C;br&#x3E;kegemaranmu itu. Masih kukenang suar...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penjuruangin.multiply.com/journal/item/14/Surat_4_Athens</guid>
<pubDate>Thu, 11 Dec 2008 11:58:43 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Surat (3)-- (Di Banten)</title>
<link>http://penjuruangin.multiply.com/journal/item/13/Surat_3--_Di_Banten</link>
<description>&#x3C;p&#x3E;&#x3C;img class=&#x22;alignleft&#x22; src=&#x22;http://images.penjuruangin.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/ST-aHwoKCEQAAHVUBAU1/tr34.jpg?et=A0XjP0SsK2mmv5z6bmFlkw&#x26;amp;nmid=0&#x22; border=&#x22;0&#x22;&#x3E;&#x3C;strong&#x3E;Prolog&#x3C;/strong&#x3E;: Segepok surat dititipkan kepadaku, oleh seorang kawan, yang hanya ingin dikenal sebagai &#x3C;em&#x3E;&#x3C;strong&#x3E;Old Bohemian&#x3C;/strong&#x3E;&#x3C;/em&#x3E;. Dia berharap orang-orang terdekatnya bisa membaca suratnya lewat jalur ini. (Salam: &#x3C;strong&#x3E;TW) ****&#x3C;/strong&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p&#x3E;&#x3C;em&#x3E;&#x3C;/em&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p&#x3E;&#x3C;em&#x3E;&#x3C;/em&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p&#x3E;&#x3C;em&#x3E;&#x3C;/em&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p&#x3E;&#x3C;em&#x3E;&#x3C;/em&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p&#x3E;&#x3C;em&#x3E;anakku&#x3C;/em&#x3E;,&#x3C;br&#x3E;akhirnya kutemukan selembar kertas dari&#x3C;br&#x3E;serakan trotoar siang tadi. Kurasakan&#x3C;br&#x3E;kian sulit mencari kertas untuk sekadar&#x3C;br&#x3E;berkabar kepadamu (dan ibumu). Seluruh&#x3C;br&#x3E;kertas telah penuh kata-kata. Begitu berat&#x3C;br&#x3E;beban manusia kini, dan hanya kepada kertas&#x3C;br&#x3E;mereka kini bisa mengeluh.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Selembar kertas kosong ini, kukira milik seseorang&#x3C;br&#x3E;yang begitu berat beban hidupnya, hingga kata-&#x3C;br&#x3E;kata tak lagi mampu menampung kesahnya.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Bagaimana kabar ibumu? Tahukah engkau betapa aku&#x3C;br&#x3E;amat memujanya. Ibumu tak pernah kehilangan&#x3C;br&#x3E;cintanya pada bapakmu ini, meski tak pernah&#x3C;br&#x3E;berhenti berjalan. Wanita semurni apakah&#x3C;br&#x3E;ibumu itu anakku? Dan, betapa brengseknya&#x3C;br&#x3E;lelaki macam bapakkmu ini yg telah mensia-siakan&#x3C;br&#x3E;waktunya.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Anaku, terimalah penyesalanku juga atas waktu-&#x3C;br&#x3E;waktu kita yg begitu banyak tersiakan. Aku&#x3C;br&#x3E;tah...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penjuruangin.multiply.com/journal/item/13/Surat_3--_Di_Banten</guid>
<pubDate>Wed, 10 Dec 2008 15:05:49 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Sego Segawe</title>
<link>http://penjuruangin.multiply.com/reviews/item/8</link>
<description>Ketika warga Yogjakarta mendeklarasikan gerakan Sego Segawe, saya tak heran. Kota ini memang selalu ada di garda depan dalam setiap dinamika kebudayaan. Gerakan Sepeda Kanggo Sekolah Lan Nyambut Gawe (akronim Sego Segawe) jelas bagian dari aksi budaya yang tak main-main.

Mari kita lihat. Saat ini umat manusia tengah ramai-ramai melakukan penghancuran diri-sendiri. Alam yang semestinya menjadi pelindung kita, diganyang habis-habisan. Hutan-hutan digunduli, kekayannya dirampas untuk memenuhi nafsu serakah para mega-cukong.

Garis pantai diporak-porandakan, katanya untuk penambangan biji besi. Dataran luas diacak-acak demi pembangun pabrik semen. Bahwa , kandungan air tanah yang menjadi gantungan jutaan manusia sekitarnya tercemar, dianggap angin lalu. Uang-lah yang bicara, dab!.

Di kota, orang berlomba-lomba memenuhi jalanan dengan kendaraan bermotor. Mereka ramai-ramai mengecat langit (yang semula) biru menjadi abu-abu dengan asap knalpot.

Tetapi tampaknya tak banyak yang mah...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penjuruangin.multiply.com/reviews/item/8</guid>
<pubDate>Sat, 6 Dec 2008 01:54:26 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Three Cups of Tea: Merebut Hati Himalaya *)</title>
<link>http://penjuruangin.multiply.com/reviews/item/6</link>
<description>Tak perlu rudal dan bom untuk &#x201C;menaklukkan&#x201D; kaum militan. Cukup dengan menyediakan sekolah. 

Tiga cangkir teh di Himalaya. Cangkir pertama adalah sambutan untuk tamu asing. Cangkir kedua menandakan si tamu sudah dianggap teman. Nah, pada cangkir ketiga, &#x201C;Kau bergabung dengan keluarga kami dan karenanya keluarga kami siap berbuat apa pun, bahkan mati, demi dirimu.&#x201D; 

Makna tiga cangkir teh itu disampaikan Haji Ali Korphe, kepala desa di Gunung Korakoram, kepada Greg Mortenson, 51 tahun. Lelaki asal Montana, Amerika Serikat, ini telah bertahun-tahun mondar-mandir di labirin pegunungan Himalaya. 

Sahib Greg, begitu dia dipanggil, mulanya adalah pendaki gunung. Tahun 1993, dia mendaki K2, puncak tertinggi di Korakoram, Himalaya. Sial, dia tersesat. Tubuhnya nyaris membeku. Kematian berjarak seujung kuku. 

Setelah berhari-hari dihajar beku salju Korakoram, Mortenson diselamatkan orang gunung. Dia dirawat di rumah Haji Ali Korphe. Cangkir demi cangkir teh dihidangkan. Mortenson te...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penjuruangin.multiply.com/reviews/item/6</guid>
<pubDate>Fri, 14 Nov 2008 12:50:52 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Celatu di Bakoel Kopi</title>
<link>http://penjuruangin.multiply.com/journal/item/12/Celatu_di_Bakoel_Kopi</link>
<description>&#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;&#x3C;a href=&#x22;http://penjuruangin.multiply.com/photos/hi-res/upload/SRGJvgoKCEQAAGHDeeQ1&#x22;&#x3E;&#x3C;img class=&#x22;alignleft&#x22; src=&#x22;http://images.penjuruangin.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SRGJvgoKCEQAAGHDeeQ1/Cangkir-Kopi.jpg?et=s2KMkCp9AEux055LJKUofg&#x26;amp;nmid=0&#x22; border=&#x22;0&#x22;&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;Ini tidak terjadi di sebelah sisi sungai Sheine, Paris, yang terkenal itu. Sebuah ruang publik dengan gereja-gereja tua dan deretan kafe-kafe, lalu orang-orang datang kesana &#x3C;br&#x3E;untuk berdikusi, ketemu teman, atau sekedar merenung. Kawasan yang demikian hangat dan intim.&#x3C;br&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;br&#x3E;Selasa malam itu, ada capucino atau mocca, yang menemani tiga teman lama dipertemukan (lagi) oleh waktu. Sebuah meja kecil, tiga bangku, dan petang yang turun di sebuah kafe di pojok Jakarta Selatan: &#x22;Bakoel Kopi&#x22;. &#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22; size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22; size=&#x22;3&#x22;&#x3E;Kenapa aku tiba-tiba teringat Sungai Sheine (yang sama sekali belum pernah kukunjungi) itu---dan hanya kutahu lewat seorang perawi kata-kata saja? Barangkali karena di sela-sela obrolan nostalgik, kami juga mencereweti gula impor gelap yang dimusnahkan di sebuah pulau, kultur manajemen BUMN yang ternyata masih feodal, kesibukan para calon presiden tampil di iklan teve ketimbang menyusun rencana-rencannya atas&#x26;nbsp; bangsa yang compang-camping ini, atau tentang &#x26;nbsp;tayangan Empat Mata yang baru saj...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penjuruangin.multiply.com/journal/item/12/Celatu_di_Bakoel_Kopi</guid>
<pubDate>Wed, 5 Nov 2008 11:56:16 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Perjanjian Di Bukit Kemuning</title>
<link>http://penjuruangin.multiply.com/journal/item/11/Perjanjian_Di_Bukit_Kemuning</link>
<description>&#x3C;img class=&#x22;alignleft&#x22; src=&#x22;http://images.penjuruangin.multiply.com/image/4/photos/6/300x300/7/P1010298.JPG?et=uSpYXalDc4P8JB1GnL3fLA&#x26;#x26;nmid=121035022&#x22; border=&#x22;0&#x22;&#x3E;Mutiara hijau itu &#x201D;terpendam&#x201D; di bumi Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah. Berjarak sekitar 10 kilometer di timur laut dari jalan utama Solo-Tawangmangu, inilah hamparan kebun teh yang kecantikannya belum banyak diketahui orang. Warga Solo dan sekitarnya, misalnya, lebih familiar dengan kawasan wisata Tawangmangu ketimbang permadani hijau seluas 483 hektare itu. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Tetapi di kawasan itulah aku berdiri pada sebuah siang awal Oktober lalu. Dalam genggaman tangan ada jari mungil anak bungsuku, Rausyan Fikri Muhamad, 3,5 tahun. Kami berdiri di sebuah pos pemberhentian yang diapit perbukitan. Kendaraan yang membawa kami dari Karanganyar kuparkir tak jauh dari tempat itu. Kupastikan tak ada bekal dan perlengkapan yang tertinggal untuk acara trekking sebentar lagi. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Hari itu, bersama sejumlah kerabat, kami akan menyusuri sudut-sudut perbukitan hijau yang mengingatkan pada kawasan Puncak atau Lembang tersebut. Ada jalan setapak melingkari bukit, dan kami akan menjelajah hingga...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penjuruangin.multiply.com/journal/item/11/Perjanjian_Di_Bukit_Kemuning</guid>
<pubDate>Mon, 27 Oct 2008 14:58:20 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Trekking di Bukit Kemuning (Karanganyar)</title>
<link>http://penjuruangin.multiply.com/photos/album/6/Trekking_di_Bukit_Kemuning_Karanganyar</link>
<description>Sebuah hamparan kebun teh yang memikat. Sebuah metemorfosis alam yang mengesankan. Dan sepengal perjalanan memahami tanda-tanda.</description>
<guid isPermaLink="true">http://penjuruangin.multiply.com/photos/album/6/Trekking_di_Bukit_Kemuning_Karanganyar</guid>
<pubDate>Sun, 19 Oct 2008 16:47:41 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Fenomena Laskar Pelangi</title>
<link>http://penjuruangin.multiply.com/reviews/item/5</link>
<description>Tidak banyak karya sinema di negeri ini yang  bisa dipertanggung jawabkan secara estetik, sekaligus pada saat yang sama mampu memberikan inspirasi kepada khalayak penontonnya. Film Laskar Pelangi adalah salah satu dari yang sedikit itu. Film ini sangat enak ditonton. Tetapi ia akan jauh lebih bernilai jika sejumlah kearifan yang tersimpan didalamnya dijadikan inspirasi untuk bekerja lebih keras menghadapi persoalan riil.

Tidak ada hero dalam film ini. Yang ada adalah kisah anak manusia biasa-biasa saja, tetapi mereka percaya bahwa mimpi merupakan hak setiap orang dan kerja keras adalah sebuah pilihan.  Dan, para tokoh Laskar Pelangi memilih kerja keras untuk mewujudkan mimpi-mimpinya.

Laskar Pelangi yang dibesut Riri Reza ini sudah memecahkan rekor jumlah penonton ketika pemutaran filmnya memasuki hari keempat. Penonton saat itu mencapai lebih dari 300 ribu orang. Ini angka yang belum pernah dicapai film-film box-office lain.  Sejumlah kalangan memperkirakan Laskar Pelangi akan m...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penjuruangin.multiply.com/reviews/item/5</guid>
<pubDate>Sun, 12 Oct 2008 13:13:06 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Pemuatan &#x22;Opo-opo Kerso&#x22;</title>
<link>http://penjuruangin.multiply.com/calendar/item/10005/Pemuatan_Opo-opo_Kerso</link>
<description>Sebuah catatan ringan soal puasa, berjudul &#x22;Opo-opo Kerso&#x22; menurut rencana akan dimuat di Koran Tempo 17 September. Ini catatan yang mengungkap kenapa para koruptor tega petantang-petenteng sok tidak bersalah, meskipun ketika ramadhana datang ia sok kelihatan seperti orang</description>
<guid isPermaLink="true">http://penjuruangin.multiply.com/calendar/item/10005/Pemuatan_Opo-opo_Kerso</guid>
<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 12:37:23 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Peluncuran Antologi Puisi &#x22;Malam, dengan Sebuah Tanda&#x22;</title>
<link>http://penjuruangin.multiply.com/calendar/item/10004/Peluncuran_Antologi_Puisi_Malam_dengan_Sebuah_Tanda</link>
<description>Buku karya Tulus Wijanarko ini diluncurkan diam-diam agar tak banyak orang tahu. Ia (buku itu) bermaksud menemui sendiri para pembacanya tanpa mengetuk pintu--apalagi uluk salam. Di sampul belakang bukunya tak tertera sebiji pun endorsment dari para penulis besar, apalagi penulis pemula, apalagi penulis gadungan. Karena buku ini bermaksud mempertanggung jawabkan dirinya sendiri tanpa bersandar pada apa pun--juga siapa pun. Kalau ia tak mengetuk pintumu, tanda-tanda antologi ini dapat diendus di rak-rak toko-toko buku mana pun. Mungkin tidak di rak utama.</description>
<guid isPermaLink="true">http://penjuruangin.multiply.com/calendar/item/10004/Peluncuran_Antologi_Puisi_Malam_dengan_Sebuah_Tanda</guid>
<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 12:32:22 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Hotel California</title>
<link>http://penjuruangin.multiply.com/journal/item/10/Hotel_California</link>
<description> &#x3C;p&#x3E;&#x3C;img class=&#x22;alignmiddleb&#x22; src=&#x22;http://images.penjuruangin.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SMr00QoKCEQAACsCYLA1/Eegles.jpg?et=VFYhbC61RwFCRI%2BgLTSNzQ&#x26;#x26;nmid=0&#x22; border=&#x22;0&#x22;&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p&#x3E;Apakah lagu ini mengungkapkan tema perjalanan--hingga harus diunggah di sini? Bagi saya ya. Lagu kelompok country-rock asal California, Eagles,&#x26;nbsp;berjudul Hotel California ini membuka tafsir terhadap tema tersebut. Inilah sebuah alegori dari perjalanan kegelisahan akan arus hedonisme yang merebak pada saat itu.&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p&#x3E;Don Henley, vokalis kelompok ini mengatakan, &#x22;Ini adalah interprestasi kami atas kehidupan kelas atas di Los Angeles.&#x22; Lalu dia bertutur,&#x22;...&#x26;nbsp;it&#x27;s basically a song about the dark &#x3C;br&#x3E;underbelly of the American dream and about excess in America, which is &#x3C;br&#x3E;something we knew a lot about.&#x22; &#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p&#x3E;Teman-teman seperjalanan, ayolah kita simak liriknya:&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p&#x3E;On a dark desert highway, cool wind in my hair, &#x3C;br&#x3E;Warm smell of Colitas &#x3C;i&#x3E;[ 4 ]&#x3C;/i&#x3E; rising up through the air. &#x3C;br&#x3E;Up ahead in the distance, I saw a shimmering light. &#x3C;br&#x3E;My head grew heavy and my sight grew dim, &#x3C;br&#x3E;I had to stop for the night. &#x3C;br&#x3E;There she stood in the doorway; &#x3C;br&#x3E;I heard the mission bell. &#x3C;br&#x3E;And I was thinking to myself, &#x3C;br&#x3E;&#x22;This could be Heaven or t...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penjuruangin.multiply.com/journal/item/10/Hotel_California</guid>
<pubDate>Fri, 12 Sep 2008 23:02:09 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Sepanjang Kaliwungu-Boja</title>
<link>http://penjuruangin.multiply.com/journal/item/9/Sepanjang_Kaliwungu-Boja</link>
<description>Menyusuri ruas jalan alternatif ke Yogjakarta (dari arah Jakarta) ini, saya menemukan pemandangan unik.&#x26;nbsp; Dua kota kecil di Kabupaten Kendal itu sepertinya tak dihubungkan oleh angkutan umum. Padahal, sekilas terlihat, arus ekonomi jalur ini sepertinya begitu hidup. Anak-anak di pinggiran wilayah Kendal ini pun banyak yang bersekolah di kota. &#x3C;br&#x3E; &#x3C;br&#x3E; Maka kreatifitas ala Melayu pun memberikan solusi. Mobil seukuran Suzuki Carry,&#x26;nbsp; dibuka bagian bak belakangnya. Dan di sanalah kebutuhan penduduk akan angkutan&#x26;nbsp; umum terpenuhi.&#x3C;br&#x3E; &#x3C;br&#x3E; Mobil itu mengangkut apa saja. Mulai dari barang dagangan, ibu-ibu bakul pasar, sapi-sapi, bahan bangunan, juga anak-anak sekolah! &#x3C;br&#x3E; &#x3C;br&#x3E; Pagi itu, 7 Agustus 2008, saya gagal memotret anak-anak sekolah di bak mobil.&#x26;nbsp; Karena kebanyaka mereka mengambil arah berlawanan dengan kami: menuju kota Kendal! Sedang saya menuju arah sebaliknya.&#x3C;br&#x3E; &#x3C;br&#x3E; Ya, merekalah anak-anak pinggiran kota yang dengan segala cara mesti pergi ke sekolah. Bahkan meski itu harus bertaruh denga...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penjuruangin.multiply.com/journal/item/9/Sepanjang_Kaliwungu-Boja</guid>
<pubDate>Mon, 1 Sep 2008 10:21:55 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Sepanjang Kaliwungu - Boja - Kendal (7 Agustus 2008)</title>
<link>http://penjuruangin.multiply.com/photos/album/5/Sepanjang_Kaliwungu_-_Boja_-_Kendal_7_Agustus_2008</link>
<guid isPermaLink="true">http://penjuruangin.multiply.com/photos/album/5/Sepanjang_Kaliwungu_-_Boja_-_Kendal_7_Agustus_2008</guid>
<pubDate>Sat, 30 Aug 2008 03:26:48 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Sepeda Merah Putih ke Cibereum</title>
<link>http://penjuruangin.multiply.com/journal/item/8/Sepeda_Merah_Putih_ke_Cibereum</link>
<description>&#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;a href=&#x22;http://penjuruangin.multiply.com/photos/hi-res/upload/SKwl6QoKCEQAABcqVgA1&#x22;&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;&#x3C;a href=&#x22;http://penjuruangin.multiply.com/photos/hi-res/upload/SKwl6QoKCEQAABcqVgA1&#x22;&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;&#x3C;img class=&#x22;alignmiddleb&#x22; src=&#x22;http://images.penjuruangin.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SKwrrQoKCEQAADQmAek1/Berbaris1.jpg?et=FXlWmpfvXCSoAvqYBXAZ2Q&#x26;#x26;nmid=0&#x22; border=&#x22;0&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;  &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;Ini bukan kisah petualangan bersepeda yang penuh heroisme atau romantika. Tak ada tanjakan menjulang, atau turunan menantang, yang biasa membakar nyali para pesepeda gunung untuk menjajalnya&#x2014;dan kelak menceritakannya jika sukses melintasinya. Tak ada darah menetes dalam kisah ini. Ini adalah &#x2013;dan hanyalah-- kisah sekelompok puak bertetangga dalam satu komplek, yang secara sederhana mencoba memberi makna pesan proklamasi, dengan cara bersepeda bersama. Tak lebih.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;Danau Cibeureum dipilih menjadi tujuan warga RT 07 Komplek Graha Harapan Bekasi dalam acara &#x201D;Sepeda Kemerdekaan&#x201D;, 18 Agustus lalu, itu. Gragot (Graha Gowes Team), klub sepeda setempat yang lahir dari rahim warga RT ini, telah mempertimbangkan berbagai sisi saat memilih danau Cibereum: jarak tak terlalu jauh, panorama beragam, dan sedikit banyak lokasi ini (bakal) bernilai historis. &#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22; size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;Delapan kilo meter (pp)&#x26;nbsp; tentu saja jarak yang cukup bagi anak-anak, ibu-ibu, dan mereka yang tak menjadikan sepeda se...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penjuruangin.multiply.com/journal/item/8/Sepeda_Merah_Putih_ke_Cibereum</guid>
<pubDate>Wed, 20 Aug 2008 14:20:19 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Trekking di Cemorosewu</title>
<link>http://penjuruangin.multiply.com/photos/album/4/Trekking_di_Cemorosewu</link>
<description>Trek Cemorosewu. Terlihat batang cemara bekas terbakar. Dan kami menyimak semua</description>
<guid isPermaLink="true">http://penjuruangin.multiply.com/photos/album/4/Trekking_di_Cemorosewu</guid>
<pubDate>Sun, 3 Aug 2008 03:07:59 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Nawit: Cantik Itu Luka*) </title>
<link>http://penjuruangin.multiply.com/journal/item/7/Nawit_Cantik_Itu_Luka_</link>
<description>&#x3C;p&#x3E;&#x3C;img class=&#x22;alignleft&#x22; src=&#x22;http://images.penjuruangin.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SI3Z7goKCEQAAFSjW3Q1/nawit.jpg?et=oHhFzn996%2BjtgeWh0h7itw&#x26;#x26;nmid=0&#x22; border=&#x22;0&#x22;&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p&#x3E;Iming-iming perjalanan kali ini adalah lintasan &#x3C;i&#x3E;cross-country&#x3C;/i&#x3E; yang menantang&#x26;nbsp; dan suguhan sop daging sapi untuk makan siang. Soal lintasan, aku tahu pasti trek menuju Nawit (Kecamatan Serang, Kabupaten Bekasi) ini memang mengasyikan. Aku sudah beberapa kali ke sana dan tak pernah bosan menjelajah bentangan medan yang&#x26;nbsp; amat bercorak itu. Tetapi sop daging sapi? Hm, aku benar-benar belum tahu tempatnya dan bagaimana pula rasanya. &#x201D;Saya jamin mak-nyus,&#x201D; ujar Ade Subrata, teman seperjalanan, sebelum kami berangkat, Sabtu, 19 Juli lalu.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Pagi itu, kami berempat berangkat dari gerbang Komplek Gading Timur Indah (Bekasi Timur) sekitar pukul 09.00. Sudah agak siang memang untuk memulai sebuah perjalanan. Apalagi di musim kemarau seperti ini sinar matahari sudah menyengat bahkan sebelum tengah hari. Tetapi tak apa, toh, nantinya kami akan banyak mengenjot di bawah rimbun tetumbuhan.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Setelah sepenanak nasi lamanya menggowes, persinggahan pertama adalah Danau Cibeureum&#x2014;sebuah situ alami d...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penjuruangin.multiply.com/journal/item/7/Nawit_Cantik_Itu_Luka_</guid>
<pubDate>Mon, 28 Jul 2008 14:39:56 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Nawit-Cibarusah-Jayasampurno-Cikedokan</title>
<link>http://penjuruangin.multiply.com/photos/album/3/Nawit-Cibarusah-Jayasampurno-Cikedokan</link>
<description>19 Juli 2008. 58 klometer.</description>
<guid isPermaLink="true">http://penjuruangin.multiply.com/photos/album/3/Nawit-Cibarusah-Jayasampurno-Cikedokan</guid>
<pubDate>Wed, 23 Jul 2008 12:20:58 -0000</pubDate>
</item>
</channel>
</rss>
